
![]()
Ada pemandangan yang sering terlihat di pesantren: dua santri belajar di hadapan guru yang sama, membuka kitab yang sama, duduk di halaqah yang sama. Tapi hasilnya tidak selalu serupa. Ada yang ilmunya terasa hidup, akhlaknya tumbuh, hatinya lembut. Ada pula yang hafal banyak tetapi sulit mengamalkan; paham hukum tetapi tak merasakan keteduhan. Para ulama sejak dulu melihat perbedaan ini bukan semata persoalan kecerdasan, tetapi persoalan adab, dan pada inti adab itu ada satu pintu bernama ridho guru.
Ulama generasi salaf sangat menekankan makna ridho guru. Al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Jāmi‘ li Akhlāq al-Rāwī menuliskan bahwa ilmu itu tidak hanya berpindah melalui lisan, tetapi juga melalui hal—yaitu keadaan batin seorang guru yang diterima muridnya melalui adab. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw. dalam riwayat Imam Malik dalam al-Muwaṭṭa’, ketika beliau menegaskan kedudukan para guru:
“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi.”
Jika guru adalah pewaris cahaya kenabian, maka menghormati guru bukan ritual, tetapi cara menjaga jalan turunnya cahaya itu.
Salah satu contoh adab yang terkenal adalah kisah Imam Syafi‘i kepada gurunya, Imam Malik. Kisah ini dicatat dalam berbagai kitab tarajim seperti Tārīkh Baghdād karya al-Khatib. Diceritakan bahwa Imam Syafi‘i tidak berani mengetuk pintu rumah Imam Malik keras-keras agar tidak mengganggu beliau, sampai-sampai beliau menunggu cukup lama sebelum dipersilakan masuk. Ini bukan sikap berlebihan, tetapi tanda bahwa beliau mendekati ilmu dengan hati yang rendah dan tenang.
Para ulama menjelaskan bahwa ridho guru bukan sekadar cium tangan atau duduk sopan. Itu hanya isyarat lahir. Ridho yang sebenarnya tampak dari kesiapan menerima nasihat, kesediaan menahan diri sebelum membantah, menjaga nama baik guru ketika jauh darinya, dan mendoakan guru secara diam-diam. Az-Zarnuji dalam Ta‘līm al-Muta‘allim menegaskan bahwa ilmu itu hanya dapat menetap pada hati yang jauh dari kesombongan, karena kesombongan menutup pintu cahaya. Dalam kitab yang sama disebutkan ungkapan masyhur dari kalangan ulama:
“Ilmu tidak diberikan kepada orang yang sombong dan tidak pula kepada orang yang tidak mau bertanya.”
Ini adalah kaidah penting: keberkahan ilmu membutuhkan kerendahan hati sekaligus keberanian yang adab.
Syaikh Abdullah al-Haddad dalam al-Naṣā’ih al-Dīniyyah menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menghidupkan hati dan mendorong amal. Ini menunjukkan bahwa keberkahan ilmu tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari hubungan batin antara murid dan gurunya. Sebab itu kita sering menyaksikan murid yang biasa-biasa saja kecerdasannya, tetapi luar biasa keberkahannya. Ia mungkin tidak cepat hafal, tetapi ia cepat menerima cahaya. Banyak kiai sepuh menegaskan, tidak sedikit yang ilmunya barakah bukan karena otaknya kuat, tetapi karena gurunya meridhoi dirinya.
Namun harus ditegaskan bahwa konsep ridho guru tidak boleh disalahgunakan. Ulama ahli adab selalu mengingatkan bahwa guru tetap manusia yang bisa salah. Ridho tidak berarti membenarkan kezaliman. Jika guru benar, ridhonya menjadi sebab keberkahan. Jika guru keliru atau berbuat tidak adil, murid tidak wajib tunduk pada kesalahan itu. Ibnu al-Jawzi dalam Ṣayd al-Khāṭir bahkan menasihati agar siapa pun yang mengambil ilmu tetap menjaga akal sehat dan timbangan syariat. Adab tidak pernah menghapus batasan benar dan salah.
Di pesantren, kisah-kisah sederhana justru paling kuat menyampaikan pelajaran. Ada cerita tentang seorang santri yang tidak menonjol kecerdasannya, tapi selalu menjaga perasaan gurunya. Ia membantu gurunya tanpa diminta, mendengarkan dengan penuh hormat, dan mendoakan gurunya setiap malam. Kelak, setelah dewasa, ia menjadi orang yang luas manfaatnya dan dititipi amanah besar. Banyak kiai berkata, “Karena ia menjaga gurunya, maka Allah menjaga ilmunya.” Ini bukan romantisme, tetapi realitas spiritual yang sudah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.
Pada akhirnya, keberkahan ilmu hadir ketika tiga hal bertemu:
niat murid yang bersih, ketulusan guru, dan adab yang dijaga. Jika tiga ini terpenuhi, ilmu tidak hanya menetap di kepala tetapi juga tumbuh dalam hati, mengubah perilaku, dan menerangi perjalanan hidup.
Semoga Allah menjadikan kita murid yang beradab, guru yang penuh rahmat, dan penempuh jalan ilmu yang dibukakan pintu keberkahan pada setiap langkah. Sebab jika ilmu adalah cahaya, maka ridho guru adalah jendela yang membiarkan cahaya itu masuk. (Abah)
Konten sedang dimuat, mohon tunggu...

