blank

Loading

KH. Dudu Abdussomad HM
(Pengasuh/Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ghoffaar)

Derasnya curah hujan seakan tak terbendung, mengubah wajah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menjadi palung duka. Banjir dan longsor merenggut lebih dari seribu jiwa. Data resmi BNPB mencatat 1.053 korban meninggal dunia per pertengahan Desember 2025. Peristiwa ini bukan sekadar statistik kebencanaan, tetapi mengguncang kesadaran iman dan memaksa kita bertanya tentang makna hidup.

Dalam pandangan teologi Islam, tragedi ini adalah manifestasi nyata dari Kedaulatan Ilahi atau Rubūbiyyah Allah SWT. Ia meruntuhkan ilusi bahwa manusia mampu mengendalikan alam sepenuhnya. Bencana menuntut respons Uluhiyyah yang jujur, pengakuan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan iman terdalam.

Kedaulatan Allah membawa hikmah bahwa musibah adalah ujian keimanan sekaligus penghapus dosa atau mukaffirāt bagi yang bersabar. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada keletihan, kesedihan, bahkan duri kecil yang menimpa seorang mukmin kecuali Allah hapuskan dosa-dosanya. Musibah, dengan cara yang pahit, mengembalikan manusia pada kesadaran akan kelemahan dan harapan sejatinya.

Namun pengakuan terhadap Rubūbiyyah Allah tidak boleh berhenti pada kepasrahan batin. Ia harus dilanjutkan dengan taubat menyeluruh dan perbaikan nyata (at-taubah wal iṣlāh). Allah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah manusia, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Taubat sejati menuntut perubahan sikap, bukan sekadar penyesalan lisan.

Islah itu bermakna luas, termasuk islah lingkungan. Alam memiliki keseimbangan yang tidak boleh dilanggar. Ketika hutan ditebang, sungai dipersempit, dan gunung dieksploitasi tanpa adab, bencana menjadi konsekuensi yang nyaris pasti. Dugaan keterlibatan puluhan perusahaan dalam perusakan lingkungan menunjukkan bahwa taubat juga harus menyentuh kezaliman struktural dan kolektif.

BACA JUGA  Persiapan Ramadhan: Jadikan Rajab Sebagai Titik Start

Respons iman yang benar adalah tawakal yang aktif (tawakkul ma’al iqtidar). Berserah diri bukan berarti berhenti berikhtiar. Justru karena beriman kepada Rubūbiyyah Allah, manusia wajib menggunakan akal dan ilmu sebagai amanah. Mitigasi bencana, penegakan hukum, dan pembangunan berbasis ilmu adalah bagian dari ibadah khalifah.

Konsep i’dād (mitigasi) dalam Islam menuntut kesiapan dan kesungguhan menghadapi risiko kehidupan. Seorang khalifah tidak merusak lalu berdoa agar selamat, tetapi menjaga bumi sambil memohon pertolongan Allah. Di sinilah iman bertemu ilmu, dan doa bertemu tanggung jawab. Bencana menguji apakah kita sungguh memahami amanah kekhalifahan atau sekadar mengucapkannya.

Selain hubungan vertikal dengan Allah, bencana menguji kualitas iman melalui kepedulian sosial (ta’āwun). Rasulullah SAW menggambarkan kaum mukminin bagaikan satu tubuh, saling merasakan sakit. Kepedulian bukan pilihan tambahan, melainkan inti ajaran Islam yang menempatkan maslahat bersama di atas kepentingan pribadi dan ego kelompok.

Ta’āwun harus hadir dalam bentuk nyata. Bantuan logistik, layanan kesehatan, pendampingan psikologis, serta penguatan spiritual (tathbīt al-qulūb) bagi korban adalah kebutuhan mendesak. Mereka yang kehilangan rumah dan keluarga membutuhkan lebih dari simpati. Mereka membutuhkan kehadiran, uluran tangan, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi duka.

Kepedulian ini harus dijaga dari riya’ dan kepentingan duniawi. Menolong sesama adalah manifestasi Uluhiyyah, bukan panggung pencitraan. Penyatuan hati (itthād al-qulūb) melalui empati tulus adalah esensi agama. Di hadapan Allah, nilai manusia bukan ditentukan oleh harta dan kuasa, tetapi oleh takwa dan manfaatnya bagi orang lain.

Musibah juga mengingatkan tentang kefanaan dunia. Ia menjadi mau’izhah paling keras bahwa harta, jabatan, bahkan nyawa bersifat sementara. Ajaran tasawuf mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam fatamorgana dunia, tetapi menyiapkan bekal akhirat (zād al-ākhirah) dengan kesadaran dan kejujuran.

BACA JUGA  Trilogi Al-Ghoffaar: Menumbuhkan Adab, Menguatkan Ilmu, dan Menggerakkan Dakwah

Kesadaran akan kefanaan inilah yang melahirkan taubat sejati, bukan taubat sesaat. Ia mendorong perubahan cara pandang terhadap hidup, alam, dan sesama. Dunia bukan tempat bermegah, melainkan ladang amanah. Setiap musibah mengingatkan bahwa waktu kita terbatas, dan kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali.

Banjir dan longsor di Sumatra adalah panggilan keras untuk muhasabah total. Duka ini seharusnya melahirkan gerakan taubat dan islah yang nyata, tawakkal yang aktif, serta kepedulian sosial yang terorganisir. Dari sanalah janji kemudahan Allah datang setelah kesulitan, dan peradaban yang adil serta beradab dapat dibangun di bawah naungan Rubūbiyyah-Nya.

Wallahu a’lam.
(Abah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Icon

Konten sedang dimuat, mohon tunggu...

blank