blank

Loading

Oleh:
KH. Dudu Abdussomad HM
(Pengasuh/Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ghoffaar)

Dalam perjalanan hidup manusia, selalu ada kisah yang membuat kita berhenti sejenak dan merenung. Ada kisah orang yang hidupnya lama tenggelam dalam gelap, lalu entah bagaimana berubah sekejap menjadi pribadi yang lembut, jernih, dan dekat kepada Allah. Dari luar, perubahan itu tampak seperti hal yang tiba-tiba. Tetapi kalau dilihat lebih dalam, hampir selalu ada proses panjang yang bekerja diam-diam di baliknya.

Dalam bahasa iman, kita menyebutnya hidayah. Sebuah anugerah yang hanya Allah yang punya kuasa untuk memberikannya. Namun, dalam bahasa pengalaman manusia, hidayah sering datang menembus celah-celah rapuh yang selama ini tersembunyi dalam hati. Ada konflik batin, ada letupan emosi, ada kesadaran baru yang muncul, dan ada momen yang mengubah arah hidup seseorang.

Kisah Umar bin Khattab adalah salah satu contoh paling indah. Umar dikenal sangat keras dan tegas, yang pada masa awal dakwah Rasul ia menjadi salah satu sosok yang paling ditakuti oleh kaum muslimin. Tetapi justru di balik kekerasan itu terdapat kegelisahan yang ia sembunyikan, sebuah keresahan yang sering muncul pada orang-orang yang tampak paling kuat di luar.

Suatu hari, Umar pergi dengan maksud menghabisi Rasulullah. Namun perjalanan itu membelok ke rumah adiknya, Fatimah. Di sana ia mendengar lantunan surat Thaha. Ayat itu mengetuk pintu hati yang selama ini ia tutup rapat. Hati yang ia kira keras ternyata sedang retak dari dalam. Dan ketika ayat itu masuk, sesuatu terjadi. “Sungguh, ini bukan perkataan manusia,” katanya dengan suara gemetar.

Perubahan itu tampak mendadak, padahal ia adalah puncak dari gejolak batin yang sudah lama ia lawan. Ayat Al-Qur’an pada hari itu bukan hanya suara, tetapi cahaya yang menemukan celah untuk masuk. Dan sejak hari itu arah hidup Umar berubah selamanya.

BACA JUGA  Trilogi Al-Ghoffaar: Menumbuhkan Adab, Menguatkan Ilmu, dan Menggerakkan Dakwah

Perubahan seperti ini sering terjadi juga pada manusia biasa. Seseorang mungkin lama hidup dalam dosa, lama membiarkan dirinya hanyut, lama bergumul dengan kesalahan yang ia coba lupakan. Tetapi di suatu titik, datang sebuah kejadian yang meluruhkan seluruh pertahanannya. Kehilangan orang terdekat, ucapan seorang teman, kalimat dari seorang ustadz, atau bahkan kesunyian di tengah malam. Semua bisa menjadi pemicu ketika hati sedang siap untuk disentuh.

Di sinilah hidayah bekerja melalui mekanisme yang sangat manusiawi. Ada konflik batin yang memuncak. Ada kelelahan dari kondisi hidup yang buruk. Ada kebutuhan untuk pulang. Dan ketika semuanya berkumpul, Allah bukakan pintu dalam satu momen yang tampak dramatis. Hidayah itu turun, tetapi ruang di dalam hati untuk menerima hidayah itu sebenarnya sudah lama dipersiapkan.

Lalu di mana peran ikhtiar manusia? Apakah kita cukup duduk pasif dan menunggu hidayah turun? Tidak. Para ulama klasik menegaskan bahwa hidayah memiliki dua tingkatan. Ibnu Qayyim menyebutnya sebagai Hidayat al-Irsyad dan Hidayat al–Taufîq. Hidayah Irsyad adalah penjelasan, ajakan, ilmu, nasihat —segala sesuatu yang bisa diusahakan oleh manusia. Kita bisa mencarinya, membacanya, mendengarnya, atau mencarinya lewat pergaulan yang baik.

Namun setelah seseorang membuka dirinya pada hidayah irsyad, barulah Allah memberikan hidayah taufîq, yaitu kemampuan untuk menerima kebenaran dan mengubah diri. Ini yang tidak bisa diusahakan. Ini murni karunia. Karena itu Al-Qur’an mengingatkan Nabi dalam ayat:

“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini tidak berarti dakwah Nabi tidak berguna. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan batas antara peran manusia dan kehendak Allah. Manusia bisa mengetuk, tetapi Allah yang membuka. Manusia bisa mengajak, tetapi Allah yang membolak-balikkan hati. Bahkan Nabi yang paling mulia, dengan perkataan paling lembut, tetap tidak bisa memaksa hidayah turun pada orang yang ia cintai, termasuk Abu Thalib.

BACA JUGA  Makna di Balik Bencana: Pendekatan Teologis

Namun justru di situlah letak indahnya dakwah. Dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata. Dakwah adalah menyediakan celah cahaya. Dakwah adalah menyiapkan hati manusia agar ketika Allah menghendaki, pintu itu sudah dalam keadaan mudah dibuka. Kadang dakwah tidak langsung mengubah seseorang. Kadang ia hanya menggerakkan satu batu kecil dalam hatinya. Tetapi batu kecil itu bisa menjadi batu terakhir yang membuat tembok runtuh ketika waktunya tiba.

Dalam banyak kisah, orang berubah bukan karena argumen yang rumit, tetapi karena sentuhan berupa kebaikan yang tulus, sapaan yang hangat, kata yang lembut, atau contoh hidup yang indah. Rasulullah menaklukkan hati banyak orang bukan hanya dengan ayat, tapi dengan akhlak. Imam Ghazali menulis bahwa hati manusia bergerak bukan semata oleh logika, tetapi oleh cahaya yang Allah masukkan lewat perantara amal-amal baik.

Itulah mengapa dakwah tidak pernah sia-sia. Meski seseorang tampak keras, hati manusia jarang sekeras wujud luarnya. Selalu ada titik rapuh. Selalu ada sudut yang menunggu disentuh. Dan jika kita tidak tahu kapan Allah memilih seseorang, kita juga tidak pernah tahu kalimat mana yang kelak menjadi titik baliknya.

Hidayah memang berada di tangan Allah. Tetapi Allah menurunkannya melalui jalan yang sangat manusiawi: gejolak batin, peristiwa yang menyentuh, dakwah yang lembut, interaksi yang baik, dan ketulusan orang-orang di sekelilingnya. Kita tidak bisa menciptakan cahaya itu, tetapi kita bisa menjaga agar jendela hati orang lain tidak tertutup rapat.

Seringkali perubahan besar terjadi pada detik yang tampak sederhana. Tetapi detik itu adalah puncak dari perjalanan panjang yang Allah atur dengan sangat lembut. Dan ketika cahaya itu tiba, hati yang paling keras sekalipun bisa luluh seketika, sebagaimana luluhnya hati Umar di depan ayat-ayat Thaha. Menurut para ulama sufi, cahaya itu sebenarnya sudah lama mengetuk. Hanya saja, baru pada satu detik tertentu, hati itu akhirnya berkata: “Masuklah.”

BACA JUGA  Al-Ghoffaar Tetapkan Tahapan Daftar Ulang dan Check-in Santri Baru

Dan pada akhirnya, siapa pun dapat mengetuk pintu-pintu hidayah itu. Ada orang yang mengetuk sambil menangis, ada yang mengetuk dengan ragu, ada yang mengetuk tanpa sadar bahwa ia sedang mengetuk. Tetapi selama hati itu masih mau bergerak, sekecil apa pun, pintu itu selalu mungkin terbuka. Sebab Allah tidak pernah menutup jalan pulang bagi siapa pun yang mencarinya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Icon

Konten sedang dimuat, mohon tunggu...

blank