blank

Loading

Oleh:
KH. Dudu Abdussomad HM
(Pengasuh/Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ghoffaar)

Ada masa ketika sebuah pesantren lahir dari niat yang masih berupa bara kecil. Belum ada bangunan yang megah. Belum ada sistem yang sepenuhnya tertata. Belum ada tradisi yang mengakar. Yang ada hanya tekad untuk menumbuhkan generasi yang kelak mampu memikul amanah besar peradaban. Al-Ghoffaar kini masih berada pada fase itu. Sebuah pesantren yang sedang bertumbuh, menata langkahnya dengan hati-hati, sambil menggenggam sebuah kompas yang menjadi arah semua ikhtiar: adab, ilmu, dan dakwah. Tiga pilar inilah yang boleh disebut sebagai Trilogi Al-Ghoffaar.

Trilogi bukan sekadar susunan tiga konsep. Bukan pula tiga tahap yang baru berjalan jika satu tahap selesai. Ia lebih dekat kepada tiga aliran yang bermuara pada satu sungai. Ketika seorang santri di Al-Ghoffaar bangun di sepertiga malam, membantu temannya menghafal, atau sekadar menemani tamu pondok dengan wajah senyum yang tenang, ia sedang mempraktikkan seluruh trilogi itu sekaligus. Adab hadir dalam hatinya, ilmu menggerakkan niatnya, dan dakwah mengalir dalam tindakannya. Semuanya berjalan serempak, tanpa perlu diberi batas-batas yang kaku.

Meski demikian, perjalanan menuju harmoni itu tentu tidak terjadi seketika. Al-Ghoffaar sedang menata fondasinya. Di fase itulah adab menjadi titik berangkat. Bukan hanya karena ia lebih utama dari ilmu atau dakwah, tetapi karena ia juga menyiapkan ruang batin tempat dua pilar lainnya kelak tumbuh dengan sehat. Imam Malik pernah menegur seorang pemuda yang terlalu tergesa ingin mengajar. Sang imam berkata, “Pelajarilah adab sebelum kau belajar ilmu.” Kalimat itu bukan pembatas, tetapi pengingat bahwa hati yang jernih adalah tempat terbaik bagi ilmu untuk tinggal.

BACA JUGA  Ridho Guru dan Tumbuhnya Cahaya Ilmu

Di Al-Ghoffaar, adab tidak diajarkan sebagai aturan yang kering. Ia ditanamkan melalui contoh yang diam-diam menyentuh. Cara santri memberi salam, cara mereka bergaul sesama santri, menghormati asatidz bahkan cara mereka merapikan sandal, semuanya adalah latihan kecil yang menata batin. Ketika suasana hati tertata, ilmu yang datang tidak hanya menjadi hafalan. Ia berubah menjadi cahaya.

Ilmu di Al-Ghoffaar dipahami sebagai perjalanan yang tidak pernah selesai. Santri belajar membaca kitab, menghafal Al-Qur’an, memahami gramatika Arab, dan menelusuri tradisi keilmuan yang diwariskan ulama. Namun ilmu di sini tidak dikejar hanya untuk lulus ujian atau mendapatkan penghormatan. Ia dicari karena ia merupakan amanah. Ia adalah tangga untuk mendekat kepada Allah. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu bisa menjadi hijab yang menipu jika tidak dibimbing oleh adab. Sebaliknya, ilmu dapat mengangkat seseorang ketika ia ditempatkan di jalan yang benar.

Karena itu, di Al-Ghoffaar, proses belajar tidak hanya terjadi di kelas. Ia terjadi dalam percakapan antara santri dan guru, dalam kebiasaan saling mengingatkan, bahkan dalam kesunyian saat seorang santri meluruskan niatnya sebelum membuka kitab. Dalam suasana yang masih terus ditata ini, pondok menumbuhkan kultur belajar yang bersih, yang tidak tergesa, tidak pamer dan tidak mengejar kesan luar. Hanya sebuah tekad sederhana untuk memahami apa yang benar.

Dari sinilah dakwah tumbuh. Bukan dakwah dalam arti kegiatan besar yang menunggu panggung atau mikrofon. Bukan pula dakwah yang dilakukan setelah santri tamat belajar. Namun dakwah yang dimulai justru di saat santri masih dalam tahap sedang belajar memperbaiki diri. Rasulullah mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Artinya, dakwah paling awal adalah kehadiran yang memberi manfaat, ucapan yang menenangkan, dan teladan kecil yang menggerakkan hati orang lain.

BACA JUGA  Makna di Balik Bencana: Pendekatan Teologis

Santri Al-Ghoffaar belajar bahwa dakwah bukan sekadar bicara namun ia adalah cara berperilaku. Ketika mereka menjaga kebersihan pondok, menata rak kitab, atau mendampingi adik kelas yang sedang kesulitan, di situlah dakwah bekerja dalam bentuk paling sederhana. Dakwah menjadi irama hidup, bukan agenda musiman. Dan meskipun pondok belum besar, semangat dakwah yang tumbuh dari hal-hal kecil inilah yang justru memberi kekuatan jangka panjang.

Ketiga pilar itu bekerja seperti tiga titik cahaya yang terjalin menjadi bentuk yang utuh. Kita mungkin melihatnya dari sisi adab, mungkin dari sisi ilmu, mungkin dari sisi dakwah. Namun ketiganya sebenarnya satu kesatuan yang terus menghidupkan perjalanan Al-Ghoffaar. Inilah mengapa ia disebut trilogi: bukan tiga bagian dari sesuatu yang terpisah, tetapi tiga sudut dari satu cahaya.

Perjalanan Al-Ghoffaar masih panjang, dan tentu saja jauh dari sempurna. Namun kini Al-Ghoffaar telah memiliki kompas yang jelas, tegas, dan kokoh. Yang sedang dibangun adalah jalannya yang meski perlahan namun teratur dan penuh harapan. Dalam fase pertumbuhan ini, trilogi Al-Ghoffaar menjadi pegangan agar setiap langkah tidak melenceng dari tujuan besar yakni menyiapkan generasi yang mampu membangun peradaban dengan hati yang beradab, pikiran yang terang, dan jiwa yang berorientasi dakwah.

Jika kelak Al-Ghoffaar tumbuh besar, akarnya tetap akan bertumpu pada trilogi ini. Jika kelak para santri menjadi pengajar, pemimpin, dai di tengah masyarakat atau profesi apapun, mereka akan membawa tiga cahaya ini dalam cara mereka hidup dan bekerja. Dan jika suatu hari sejarah menuliskan perjalanan pondok ini, semoga ia mencatat bahwa Al-Ghoffaar tumbuh bukan dengan tergesa, tetapi dengan keyakinan dan arah yang jelas. Sebab dari sinilah peradaban selalu dimulai: dari langkah-langkah kecil yang setia pada nilai yang besar. (Abah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Icon

Konten sedang dimuat, mohon tunggu...

blank