blank

Loading

KUNINGAN (18 Januari 2026) — Pondok Pesantren Al-Ghoffaar, Desa Cikaso, Kabupaten Kuningan, menjadi titik temu ratusan santri, alumni, dan masyarakat pada Sabtu (17/1). Mereka hadir dalam satu rangkaian khidmat, Haul ke-49 KH. Hasan Mughni yang disatukan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw.

Sejak pagi, Masjid Pondok Pesantren Al-Ghoffaar dipenuhi lantunan zikir, tahlil, dan doa. Peringatan ini tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi juga momentum refleksi atas warisan keilmuan dan adab yang ditinggalkan sang muassis.

Dalam sambutan pembuka, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ghoffaar, KH. Dudu Abdussomad HM, menegaskan keterkaitan makna dua peristiwa besar tersebut.

“Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi menuju puncak penghambaan, sementara haul adalah cara kita menyambung sanad ruhani kepada para guru,” ujarnya. “Keduanya harus menjadi energi bagi santri untuk melakukan mi’raj, yakni kenaikan kualitas diri, melalui Trilogi Al-Ghoffaar, adab, ilmu, dan dakwah.”

Ia menambahkan bahwa haul tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan semacam ini, menurutnya, harus berfungsi sebagai media pewarisan nilai, terutama peneguhan bahwa adab di lingkungan Al-Ghoffaar harus selalu ditempatkan di atas ilmu.

Apresiasi terhadap peran pesantren juga disampaikan Kepala Desa Cikaso, Hidayat, SE., M.Si. Ia menyebut keberadaan Pondok Pesantren Al-Ghoffaar sebagai pilar penting kehidupan masyarakat, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam pembinaan moral dan sosial.

Memasuki inti acara, jamaah diajak menelusuri kembali perjalanan hidup KH. Hasan Mughni melalui pembacaan manaqib yang disampaikan oleh H. Dudung Abdul Karim, putra ketiga almarhum. Riwayat itu menghadirkan sosok ulama karismatik, keturunan ke-4 KH. Hasan Maulani (Lengkong) dan ke-16 Sunan Gunung Jati, yang dikenal karena keteguhan adab, keluasan ilmu, dan kelembutan dalam mendidik.

BACA JUGA  Al-Ghoffaar Buka Tiga Jalur Pendaftaran Santri Baru

Selain kiprah dakwahnya, KH. Hasan Mughni juga meninggalkan warisan intelektual berupa lebih dari seribu bait nadoman Sunda. Karya tersebut saat ini tengah dipersiapkan pihak keluarga untuk dibukukan agar dapat diakses oleh generasi berikutnya.

Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh Ketua MUI Kabupaten Kuningan, KH. Dodo Syarif Hidayatullah, M.A. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa haul sejatinya adalah ruang untuk merawat nilai dan menyalakan kembali teladan para ulama.

Salah satu kisah yang ia sampaikan menggambarkan adab KH. Hasan Mughni dalam keseharian.

“Beliau membangunkan santri untuk tahajud bukan dengan hardikan, tetapi dengan percikan air yang lembut. Di situlah kita melihat bagaimana adab hidup dalam diri seorang murabbi,” tuturnya.

Menurut KH. Dodo, warisan para ulama terdahulu selalu mengajarkan harmoni. “Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup menjadi terarah. Pondok Pesantren Al-Ghoffaar adalah tempat bertemunya ketiganya,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para muassis dan masyayikh Pondok Pesantren Al-Ghoffaar yakni KH. Jojo Ghozali dan KH. Ori Shobari Manshur, keluarga besar pesantren, serta keberlanjutan perjuangan dakwah dan pendidikan Islam.

Peringatan haul kali ini tidak hanya menghadirkan ingatan, tetapi juga mempertegas misi menjaga sanad, meneguhkan adab, dan meneruskan warisan KH. Hasan Mughni agar tetap hidup dalam denyut generasi Al-Ghoffaar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Icon

Konten sedang dimuat, mohon tunggu...

blank